23.12.09

Nilai Rapot Bikin Repot

Gue bukan orang pintar. Dari muka iya tapi aslinya nggak. Kalau ada yang bilang gue orang pintar, orang itu pasti pengen gue BAGUS di mata orang lain. Gue nggak pintar. Bukti? Nilai rapot gue pas-pasan dan gue biasa aja. Santai. Terima cek cok mulut. Hal biasa tuh. Orang tua gue nggak terima, nggak apa. Gue nggak mau jadi orang pintar (mau sih). (Maksudnya) gue nggak mau terlalu pintar. Dulu waktu SD dan SMP, yang namanya belajar, gue rasanya disiksa. Harus dan wajib dapat nilai bagus. Tapi setelah gue pahami, nggak ada efek sama sekali kalau gue dapat nilai bagus. Yang perlu kita ketahui kalau nilai rapot anda-anda bagus, cuma dapat pengaruh sedikit. Nomor satu pasti dibanggain. Siapa yang nggak bangga nilai matematika bagus? Dari namanya aja udah mateMATIka. Wah, harus mati-matian buat ahli nih bidang. Gue dulu jagonya, tapi sekarang gue standar. Ngikut arus dan apa adanya. Yang penting gue bisa dan PR selesai. Nomor dua. Dapat bonus dari orang tua. Itupun kalau orang tua matanya berbinar-binar liat rapot yang isinya GILA bagusnya. Efeknya, kalau orang tua senang dan bahagia serta ceria, pasti mereka membebaskan kita dengan apa yang kita inginkan selama yang kita ‘inginkan’ ini masih di batas wajar. Misalnya bepergian ke luar kota. Orang tua sudah percaya dan memberi hadiah secara nggak langsung berupa kebebasan. Jadi, apakah selama ini gue nggak di kasih kebebasan?

Apakah hadiah itu hanya datang pada hari pembagian rapot? Nomor 3 jadi andalan kawan-kawan. Pasti mau nggak mau jadi server deh (tahu kan server?). Pokoknya siap-siap aja jadi andalan kelas sebagai The Master! Nomor 4 percaya diri jadi meningkat. Ini efek samping nilai rapot yang gila. Jadi apa slama ini lo nggak percaya diri? Hati-hati tuh. Kalau nilai turun walaupun cuman sedikit, stress berat bahkan depresi menyerang tanpa obat penawar.
Yah, kira-kira cuman itu, nggak lebih. Itu penelitian gue selama gue dapat rapot bagus. Jadi, apakah sisi kognitif itu penting? Gue akuin itu penting banget. Tapi gue mikir lagi, penting untuk apa? Alasan yang sama gue dengar dari guru yang berbeda. Supaya masa depan cerah, bisa diterima di perguruan tinggi, dan ini salah satu syarat kenaikan kelas. Pak, bu, maaf ya. Bukannya membantah atau melawan. Masa depan saya sudah cerah selama saya yakin, berpikiran positif, say no to free sex, say no to drugs, nggak minum-minum (cuman doyan air putih), jalani kegiatan positif, aktif dan senyum. Siapa yang tahu kalau masa depan bakal cerah hanya dengan nilai kognitif yang terbilang indah? Selama nilai gue di atas standar kelulusan, kenapa nggak? Berarti lulus kan? Kalau nilai gue jelek, nggak sesuai dengan yang diharapkan (baca: nilai 8, 9, bahkan gilanya 100), itu ada dua kemungkinan. Satu, emang guenya yang bego. Yang kedua, faktor gurunya yang nggak mau di salahkan sebagai alasan kenapa nilai muridnya jelek. Ya ampun, hari gini yang muda kena imbasnya terus. Kapan orang yang lebih tua bisa ngaca dan introspeksi? Jangan muridnya terus dong yang di salahin.

Gue bangga dengan gue. Karena gue dapat nilai cukup dan nilai bagus di kegiatan. Itu artinya gue peduli ama sekolah gue di samping kegiatan gue yang numpuk seperti voli, atletik, band, dan terlebih olahraga bela diri kempo. Apalagi urusan DUTA HIV, huwah! Ini benar-benar membuat aku bangga, hahaha (ketawa setan). Kalau kamu punya kegiatan, selagi muda, tumpuk aja selagi kamu senang dan serius dengan kegiatanmu. Kapan lagi kamu bisa bergerak bebas? Kalau sudah tua, umur kepala 2 atau 3 siap-siap mimpi dengan kegiatan-kegiatan yang kamu inginkan. Gue pikir, apakah David Beckham pintar matematika? Kalau Putri Indonesia perlu modal 3B, Bukan Bintang Beneran (loh?) itu memang fantastik. Gue menyaksikan sendiri betapa luar biasanya kumpulan wanita cantik yang berlenggak lenggok di atas panggung megah memamerkan gaun indah karya desainer ternama, melambangkan mereka mempunyai kecantikan yang begitu terpancar dari mulai ujung rambut sampai kaki. Tinggi semampai, langsing, hidung mancung, bibir merona, kulit mulus, senyum menawaan, ooh indahnya dunia (ngiler). Babak berikutnya penampilan memukau 10 diantara mereka yang kepribadiannya bagus sejak karantina dimulai. Dan pertanyaan diajukan kepada mereka satu persatu.

Mulai tegang. Mulai gigit-gigitan (gigit apa?). Makan cemilan. Gue nggak mikir diet. Gue pandangin terus tipi gue yang flat. Seru. Malem-malem. Nggak ada yang nonton selain gue. Horor tapi indah karena nonton bidadari pada wira wiri di tipi. Peserta PI (singkatan Putri Indonesia) pada milih nomer yang isinya pertanyaan tentang Pengetahuan Umum. Macem-macem. Bisa berupa pengetahuan bidang apapun. Gue yang nonton gugup, kok mereka yang ditanyain soal kagak nerves yah?

Senyum mereka menawan hati. Apakah itu salah satu daya tarik mereka? Sama seperti kunci masa depanku kan? Hah! Take that! Gue gak selamanya salah. Berati ada benernya prinsip masa depan hidup gue ketimbang nilai kognitif, huwahahahaaha! (ketawa setannya iblis)

Lanjut. 10 Calon PI mulai mengeluarkan kata-kata sakti dengan senyum mereka. 1 sampai 5 gue nggak heran. Pertanyaan mengenai kehidupan kita. Seperti apa arti dari persahabatan, arti sukses dan lainnya. Tapi kalau ditanya soal apa hasil kongres ASEAN, teori jenius Thomas Alfa, Beeeuuhhh! Gue bukan changcuters, tapi berulang kali gue respon gitu. Pengetahuan umum, sejarah. Jarang gue lihat PI disuruh jawab soal matematika sambil dikasih lembar kosong coretan (malah nggak ada kali ya?). intinya bukan gitu, tapi pelajaran di sekolah itu umum. Jadi ada matematika, kimia, biologi, ekonomi dan sebagainya itu pada dasarnya untuk merubah dan meng-improve pola pikir kita secara tidak langsung.

Manusia itu ada bakat spesial. Dan setiap manusia bisa sesuatu yang diandalkan, maksud gue seseorang spesialis, kayak dokter gitu. Spesialis bedah, spesialis bidan, spesialis gigi deelel. Nggak mungkin kan ada spesialis gigi ngurusin pasien bidan? Yang ada juga perut pasien dibor. Sama juga kayak kita anak sekolah. Pas gue SMP, gue ngerasa gue bakat di dunia musik. Gue tekunin pake jurus tarik suara. Ikut kursus. Tapi gue ngerasa nggak dol. Jadi gue ikut les gitar. Merasa kurang puas juga, gue nerusin kursus biola yang aslinya gue udah pernah ikut kursus cuman putus di SD. Tapi semuanya ancur karena gue asli keteteran (numpuk gak keruan kamsudnya). Eh nggak taunya, karir gue yang emang udah ada semenjak SD (paduan suara) diterusin oleh guru seni gue. Gue baru masuk SMP semester 1 dan nggak kenal sama tuh guru. Gue angguk-angguk aja denger dia narik beberapa anak buat nyanyi Vokal Grup. Tahu bakat main biola gue, gue disuruh main biola sama guru itu. Yeh! Tahu aja sih nih guru. Apa gue cukup terkenal ye? Keterusan deh sampe kelas 2. Ngerasa gue pensiun dari Vokal Grup. Gue udh 3 tahun ikut ekskul kempo. Beladiri jepang yang oke punya tapi nggak banyak orang tau. Ayah gue dari bujang udah ngerasa mendarah daging. Dan mungkin beliau ngerasa kurang pol, karena gue belum ikut. Nggak lengkap rasanya kalau gue nggak ikut. Masalahnya adik gue yang perempuan udah terjun duluan keikut ama bujuk rayunya babe. Gue belum ngena, hehe. Akhirnya gue sambil nyambi (ekskul sambilan) di samping Vokal grup, gue nyenengin hati babe. Eh nggak tahunya enak juga. Sampe sekarang kelas 2 SMA masih nyaman juga dan bahkan gue tergila-gila. Selalu aja gue keterusan kalau cerita. Nih artinya dari cerita gue, sudah ada 2 ya kegiatan gue. Tarik suara dan Kempo.

Akhirnya gue lulus juga dari SMP, gue masuk ke dunia yang lebih puber, SMA. Hwah, kayak apa ya rasanya jadi anak SMA. Kayaknya penuh dengan cerita. Ya, gue merasa apa yang gue lakukan di SMP belum apa-apa. Jadi gue nambah lagi. Belum sempat ngeliat daftar ekskul, eh dipanggil kaka senior. Gue kira mau digencet kayak teme sampe gencet, nggak tahunya ditarik jadi anggota DANCE. Wow, ini kan kesempatan bagus untuk menyalurkan hobi gue. Pasti anda mengira hobi gue menari. Salah. Hobi gue JOGET. Tiap kali denger musik (apalagi nge-beat) walaupun dangdut & gue nggak suka serta benci, bagian badan gue pasti langsung gerak walaupun dikit. Nggak lama kalau gue udah nggak jaim, udah deh. Seantero temen-temen gue bakal lari, pura-pura nggak kenal. (loh kok ngelantur ceritanya)

Intinya, gue punya kebebasan dalam memilih. Selama pilihan gue itu bertanggung jawab. Biar nilai rapot gue dibilang jelek, gue bakal bilang bagus ke rakyat Indonesia. Masa iya nilai semua bidang studi gue bagus semua? Gak waras tuh! Hahaha (ketawa ngehina). Pertama kali kalau liat nilai rapot, adalah nilai bidang studi bahasa inggris. Dan gue ketawa mencret begitu ngeliat. BAGUS SODARA SODARA. Aman berarti. Habis itu liat Seni Budaya. Iler gue netes. Gue tepuk tangan karena nilainya INDAH! Habis itu gue liat Bahasa Jepang. Alis gue yang agak pitak ngangkat dikir ngeliatnya. Nilainya seru. Habis itu ngeliat Olahraga & Bahasa Indonesia. Gue langsung telanjang (nggak lah). Udah deh aman. Pelajaran lain nggak gue liat. Masa bodo. Bakat gue ya cuman di bidang itu saja. Gue bukan ilmu farmasi dan orang yang hendak menjadi dokter. Gue cuman mau memperjuangkan independensi lewat seni. Gue cuman mau bisa sukses dengan hanya bicara. Dan gue lebih milih ilmu pengetahuan umum dibanding IPA atau IPS. Kalaua ada kelas bahasa, mending gue ngambil kelas bahasa walaupun nyak babe pingsan berbusa nge dengernya.

No comments:

Post a Comment